Monday, November 10, 2008

Ketua PCINU Australia: Eksekusi Jadikan Amrozi Martir

Eksekusi terhadap tiga pelaku Bom Bali 2002 tidak menyelesaikan masalah, namun justru memenuhi keinginan mereka untuk menjadi martir alias syahid menurut anggapan mereka sendiri dan kelompok Islam garis keras. Demikian dikatakan Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-Selandia Baru, Eko Zuhri Ernada, di Canberra, seperti dikutip kantor berita Antara, Ahad (9/11), beberapa saat setelah dilakukan eksekusi mati terhadap tiga terpidana mati bom Bali yang menewaskan 88 turis Australia. "Saya dari dulu tidak setuju eksekusi Amrozi cs karena hukuman tersebut hanya memenuhi keinginan mereka untuk menjadi martir. Citra martir itu pun kini sudah terjawab di masyarakat seperti adanya orang yang menjual baju kaos bergambar Amrozi," kata Eko.

Menanggapi eksekusi ketiga pelaku serangan yang menewaskan total 202 orang, Eko mengatakan, hukuman mati tidak menyelesaikan masalah di tengah kesimpangsiuran opini di masyarakat Indonesia terkait dengan kasus mereka. "Yang dilakukan Amrozi dkk di Bali enam tahun lalu tetap salah karena Indonesia bukanlah lokasi perang melainkan tempat damai sehingga membunuh warga sipil yang tidak bersalah tidak dapat dibenarkan," kata kandidat doktor Universitas Nasional Australia (ANU) ini. Rakyat Australia sendiri tidak semua sepakat dengan hukuman mati bagi Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudera.

"Masyarakat Australia terbelah. Ada yang berpendapat bahwa perbuatan Amrozi cs tidak perlu dibalas, tapi ada pula yang berpendapat sebaliknya," kata Indonesianis Universitas Nasional Australia (ANU), George Quinn di sela Konferensi Bahasa Indonesia di KBRI Canberra, Sabtu. (NU Online)


Jihad Mbah Hasyim Beda dengan Jihad Amrozi

Jihad yang dimaksud oleh pemimpin besar Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) dalam Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang kemudian memicu peristiwa Hari Pahlawan 10 November adalah berbeda dengan jihad yang digelontorkan kelompok muslim garis keras seperti Amrozi Cs. “Jihad dalam pengertian fisik militer harus diletakkan dalam sistem kemasyarakatan yang lebih luas,” kata Ketua PBNU Fajrul Falakh, di Surabaya, Ahad (9/10), di sela seminar "Jihad dan Kepahlawanan: Refleksi Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan". Menurut Fajrul, jihad versi NU yang digelorakan Mbah Hasyim melalui Resolusi Jihad dan ditegaskan kembali dalam Muktamar NU Tahun 1946 adalah resolusi sikap NU terhadap pemerintahan yang telah disepakati. Resolusi Jihad NU adalah upaya mempertahankan kedaulatan negara.

“Jihad dalam NU tidak hanya terkait dengan kepentingan satu kelompok saja, tetapi juga terkait kepentingan sekelompok masyarakat lainnya yang lebih luas lagi,” katanya. Lebih dari itu, pakar hukum Universitas Gajah Mada ini mengingatkan, ajaran tentang jihad tidak hanya terkait persoalan fisik dan militer. Sementara ini pandangan umumnya masyarakat tentang jihad memang hanya terpaku pada peperangan dan kekerasan bersenjata. Jihad dalam versi lainnya yang lebih realistis saat ini adalah jihad kemanusiaan dengan menghormati hak-hak orang lain, dan berjuang menegakkan keadilan sosial. “Jihad bukan hanya persoalan fisik seperti ditunjukkan oleh sekelompok orang Islam saat ini. Mengajar, berdakwah dengan sungguh-sungguh, bahkan ibu yang sedang melahirkan itu pun jihad. Bahkan Nabi Muhammad dalam hadist yang sangat populer telah mengingatkan adanya jihad yang lebih besar, yakni jihad melawan hawa nafsu kita sendiri,” katanya. (NU Online)


Saturday, November 08, 2008

Gerakan “Pembonsaian” Ubudiyah Warga NU Dinilai Sudah Kritis


Gerakan propaganda sekelompok umat Islam yang menganggap bid’ah atau menyesatkan ubudiyah (tradisi peribadatan) warga Nahdlatul Ulama (NU) dinilai sudah berlebihan dan pada beberapa kasus sudah tidak bisa ditolelir. ”Fenomena pembonsaian ajaran Islam ala ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana diamalkan oleh orang NU tidak bisa dianggap sepele dan sudah memasuki tahap kritis,” kata Pengasuh Pondok Pesantren As-Shidiqiyah KH Nur Muhammad Iskandar SQ saat memberikan taushiyah dalam acara pembukaan Halaqah dan Konferensi Besar IPPNU di halaman pesantren Asshidiqiyah Jakarta, Kamis (6/11). Kiai Nur menyontohkan, di Bogor ada satu stasiun radio bernama Ahlussunnah wal Jamaah. Namun dalam setiap siaran radio ini justru menganggap sesat beberapa hal dalam ajaran tersebut yang diyakini oleh warga NU. Bahkan beberapa ”orator” radio ini sampai mengkafirkan Imam Ghazali, ulama panutan warga NU di bidang ilmu dan ajaran tasawwuf.

Di beberapa tempat, lanjut Kiai Nur, juga muncul propaganda-propaganda lainnya separti gerakan anti tahlil (GAT), dan gerakan anti maulid (GAM). ”Lho ini maunya apa?” keluhnya. Sementara itu di sisi lain juga muncul beberapa versi ajaran Islam yang menyimpang dari apa yang telah diajarkan oleh para ulama dan salafus shalih. ”Ada juga yang sampai mengaku jadi Nabi. Ada orang yang namanya Lia Eden. Dia ini pernah pinjam uang sama saya tapi sampai sekarang tidak dikembalikan. Tapi dia mengaku mendapatkan wahyu dari Malaikat Jibril. Masa dapat wahyu kog utangnya nggak dibayar,” kata Kiai Nur disambut tawa hadirin.

Kepada para kader IPPNU dari seluruh wilayah di Indonesia Kiai Nur berharap pesantren bisa menjadi basis utama gerakan penerangan terhadap kesalahfahaman kelompok Islam yang benci terhadap ubudiyah warga NU serta meluruskan berbagai ajaran yang menyimpang. ”IPPNU saya harapkan menampung suara anak-anak pesantren. Gerakan ini hendaknya diawali dari pesantren,” kata pengasuh pesantren As-shidiqiyah yang kini mempunyai 9 cabang di seluruh Indonesia itu. Selain itu, kata Kiai Nur, pesantren yang menjadi basis utama warga NU adalah institusi kebudayaan dan pendidikan yang bisa memahami keanekaragaman. ”Tanpa pesantren yang mau memahami heterogenitas mungkin Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini tidak akan pernah lahir,” katanya. (NU Online)


Kang Said: Aswaja Tak Mengenal Terorisme


Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) sebagai paham dan ajaran keislaman yang dianut oleh organisasi NU mengajarkan umat untuk berlaku toleran dan meninggalkan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. “Ahlussunnah tidak mengenal kekerasan dan terorisme. Kita ini adalah umat yang modern, yang penuh toleran, dan moderat, agar menjadi contoh bagi umat yang lain,” katanya dalam acara silaturrahim IPPNU dengan Ibu Negara Ani Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Jum’at (7/11). Dikatakan Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siradj, para ulama yang yang tergabung dalam NU berjuang membela tanah air sebagai bagian dari tugas agama. Maka tugas membangun Indonesia adalah tugas agama.

“Dulu ulama yang bersarung bercita-cita mendirikan negara darus salam (negara yang menyejahterakan), negara Indonesia, bukan darul Islam (negara Islam). Pada tanggal 22 oktober 1945 dikeluarkanlah fatwa Resolusi Jihad, bahwa membela tanah air sama dengan membela agama,” kata Kang Said. Acara silaturrahim dengan Ibu negara yang dihadiri Kang Said itu merupakan bagian dari agenda Halaqoh Pelajar dan Kenferensi Besar (Konbes) IPPNU yang diadakan di Jakarta selama empat hari, 6-9 November 2008. (NU Online)


 
© 2009 :: Rio's Blog | Love Aswaja ::. All Rights Reserved | Powered by Blogger
Blogger Layout by psdvibe | Bloggerized By LawnyDesignz |Modern Home Design